Art Jakarta Papers 2026: Pameran Seni Kertas Pertama di Indonesia
Menyoroti potensi, eksperimen, dan masa depan seni kertas di Tanah Air.
Foto utama: Rachman Karim/TFL Paper
Setiap mendengar nama “Irlandia”, ada beberapa hal yang langsung muncul di benak saya: bentang alamnya yang ikonis, sosok fiktif Count Dracula dalam novel Gotik karya Bram Stoker, hingga kisah belasan ribu pekerja Irlandia yang membangun RMS Titanic di awal 1910-an. Namun, harus diakui, lanskapnya memang sulit dilupakan—syahdu, misterius, dan nyaris puitis dalam cara yang tidak dibuat-buat.
Akhir Maret 2026, saya berkesempatan untuk menyelami lanskap tersebut. Bukan lewat lawatan ke Irlandia, melainkan melalui pameran Ireland’s Eye 2026. Bertajuk The Imprint of the Irish Landscape, perhelatan seni ini diprakarsai oleh Kedutaan Besar Irlandia, berkolaborasi dengan ISA Art and Design dan PT Jakarta Land. Edisi tahun ini terasa lebih signifikan dengan kehadiran Sharon Lennon, Duta Besar Irlandia untuk Indonesia, pada momen pembukaannya.

Tak hanya Jakarta, kota-kota seperti Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta turut menjadi bagian dari rangkaian perayaan seni tahunan ini menghadirkan sebuah pendekatan yang memperluas pengalaman pameran seni ke audiens yang lebih beragam. Koleksi yang ditampilkan dikurasi oleh Mark Joyce, seniman sekaligus pengajar di Dún Laoghaire Institute of Art, Design and Technology, Dublin, yang dikenal lewat eksplorasinya terhadap anomali dalam pengalaman optik manusia.
Secara keseluruhan, terdapat 14 karya dari enam seniman lintas generasi di Irlandia yang dipamerkan. Semuanya terikat oleh satu benang merah: konsep the spirit of place—sebuah gagasan tentang bagaimana ruang menyimpan resonansi budaya dan emosi. Selaras dengan tajuknya, karya-karya ini dihasilkan melalui teknik grafis cetak atau printmaking, mulai dari etsa hingga karborundum, yang memberi dimensi tekstural sekaligus konseptual pada setiap karya.

Di jantung pameran, terdapat tiga karya figur modernis Tony O’Malley. Lahir di County Kilkenny, seniman otodidak ini dikenal terinspirasi oleh lanskap-lanskap eksotis seperti Bahama dan Kepulauan Scilly—yang kemudian diterjemahkan menjadi komposisi warna yang ekspresif. Karya bertajuk Firenze II, misalnya, tampil mencolok dengan sapuan merah perunggu dan tekstur subtil yang menyerupai urat kayu.
Selain karya mendiang Tony O’Malley, beberapa karya lain juga meninggalkan kesan yang cukup kuat. Golden Field karya Cora Cummins, misalnya, menghadirkan pengalaman yang nyaris fotorealistis meski dengan komposisi yang minimal. Dominasi warna cokelat keemasan dan guratan tegas di bagian bawah kanvas menggambarkan ladang gandum dengan cara yang tenang tapi presisi. Pendekatan serupa ia gunakan dalam karya Meadow, yang merekam ketenangan padang rumput hijau.


Berbeda dari Cora Cummins, Gwen O’Dowd memilih pendekatan yang lebih atmosferik. Lewat dua karya karborundum, Limen I dan Limen II, ia menghadirkan dinginnya Samudra Atlantik dalam bentuk yang nyaris abstrak. Dikenal lewat karya-karya berskala besar, Gwen membawa rasa luas dan sunyi yang sulit diabaikan. Tak hanya lukisan, Ireland’s Eye 2026 juga menghadirkan film pendek The City Beneath Me karya Charlie Dineen. Direkam dalam format hitam putih, film ini menampilkan lanskap Paps of Anú di County Kerry yang indah, sekaligus menyisakan aura sakral yang subtil.
Berlangsung dari 1 hingga 24 April 2026, Ireland’s Eye 2026: The Imprint of the Irish Landscape mengajak pengunjung untuk menyelami lanskap Irlandia tanpa harus benar-benar berpindah tempat. Lebih dari itu, pameran ini menyiratkan satu hal yang sederhana tetapi sering terlewat: bahwa alam dan manusia tidak pernah benar-benar terpisah.—Rachman Karim
Salah satu produksi berskala besar yang paling ambisius di awal tahun. 30 Jan-15 Feb 2026