Serba-Serbi Stadion Lokasi Konser Coldplay di Bangkok
Rajamangala National Stadium, stadion gigantik di Bangkok yang cukup dikenal di kalangan turis.
Foto utama: Rachman Karim/TFL Paper
Bicara soal ruang hijau terbuka (RTH), dalam laporan yang dirilis 2023 dari Dinas Pertamanan Hutan dan Kota DKI Jakarta menunjukkan ada lebih dari 1.600 RTH di ibu kota. Daftar ini mencakup taman-taman berskala besar, serta taman-taman warga yang tersebar di berbagai sudut kota. Sayangnya, data statistik dari Databoks pada tahun yang sama menunjukkan bahwa jumlah tersebut baru mencakup 5,2% dari keseluruhan luas provinsi—angka yang masih jauh dari ideal untuk sebuah kota megapolitan.
Meski demikian, dilansir dari Detik News, inisiatif dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk meningkatkan jumlah RTH telah dimulai sejak 2024, dengan target ambisius mencapai 30% pada 2030. Di tengah dorongan menuju kota yang lebih hijau dan layak huni, tahun ini warga Jakarta menyambut hadirnya destinasi baru yang memadukan lanskap flora dengan sentuhan sejarah: Taman Bendera Pusaka. Sebuah ruang publik yang tak hanya fungsional, tetapi juga menawarkan pengalaman ruang yang lebih komplet.
Visual Segar
Taman Bendera Pusaka merupakan gabungan dari Taman Ayodya (atau dikenal juga sebagai Taman Barito), Taman Langsat, dan Taman Leuser. Usai direvitalisasi, ketiganya kini terintegrasi melalui jembatan dan terowongan pedestrian yang memudahkan mobilitas sekaligus menciptakan alur eksplorasi yang lebih mulus. Luas totalnya mencapai 5,6 hektare, membentuk huruf “L” dari pertengahan Jalan Lauser hingga ujung barat Jalan Mahakam—sebuah skala yang cukup ideal untuk retret urban di tengah padatnya Jakarta Selatan.


Desain taman merupakan rancangan Yori Antar, arsitek di balik wajah baru Gelora Bung Karno. Transformasi signifikan terlihat di zona timur (Taman Ayodya). Pilar-pilar lampu yang dulu tersebar di sekitar kolam teratai kini dipangkas untuk memberi ruang visual yang lebih lapang, sementara area amfiteater dipulas dengan rona merah bata yang hangat dan kontemporer. Sebuah pelang “Taman Bendera Pusaka” dipasang membelakangi kolam, menjelma menjadi salah satu spot foto di Jakarta yang cepat populer di kalangan pengunjung.
Di zona ini, sebuah jembatan penyeberangan hadir bukan sekadar sebagai penghubung, tetapi juga identitas visual baru. Dijuluki “Jembatan Merah Putih”, struktur ini dicat merah pekat dengan aksen putih pada pagar pembatasnya. Jalurnya dibuat meliuk, terinspirasi dari gerakan bendera merah putih saat berkibar—sebuah interpretasi desain yang terasa simbolik sekaligus ramah Instagram. Taman Bendera Pusaka juga memiliki ikon lain: Patung Ibu Fatmawati. Didesain oleh seniman kontemporer Teguh Ostenrik, patung ini menggambarkan Ibu Fatmawati yang—di tengah kehamilannya—sedang menjahit Sang Saka Merah Putih, menghadirkan lapisan narasi historis yang kuat di tengah lanskap modern.

Beberapa amenitas pendukung lain turut mendapatkan pembaruan estetika. Jalan setapak yang mengular di sepanjang taman dirapikan, meningkatkan kenyamanan dan keamanan bagi pejalan kaki, pesepeda, hingga pengguna kursi roda. Hal ini sejalan dengan konsep ruang publik inklusif. Paviliun serbaguna di zona selatan tampil lebih segar dengan pendekatan arsitektur vernakular modern, menjadikannya ruang fleksibel untuk berbagai aktivitas komunitas.
Pedal dan Padel
Peran Taman Bendera Pusaka sebagai wadah aktivitas publik semakin terasa melalui rangkaian fasilitas yang dapat diakses secara gratis. Sebagian besar amenitas olahraga terkonsentrasi di zona timur. Bagi pelari dan pesepeda, tersedia trek sepanjang 1,2 kilometer yang ideal untuk sesi ringan hingga moderat. Lapangan basket menjadi salah satu titik yang paling ramai, sementara kehadiran lapangan padel mencerminkan naiknya popularitas olahraga raket ini di kalangan masyarakat urban.

Di luar aspek kebugaran, taman ini juga mengakomodasi kebutuhan akan ruang jeda yang lebih tenang. Sebuah perpustakaan kecil hadir dalam balutan warna saga, menawarkan koleksi buku yang cukup ekstensif serta permainan edukatif untuk anak-anak. Ada pula area bermain yang dilengkapi berbagai wahana—dari ayunan dan seluncuran hingga panjat tebing mini—menjadikannya destinasi yang ramah keluarga sekaligus relevan untuk aktivitas akhir pekan di Jakarta.
Legasi Berlanjut
Sebelum direnovasi pada 2012, Taman Langsat difungsikan sebagai pusat penyimpanan bibit tanaman. Kini, dalam format baru sebagai Taman Bendera Pusaka, fungsi tersebut tetap dipertahankan sebagai bagian dari komitmen terhadap pelestarian flora. Beragam spesies vegetasi menghuni kawasan ini, dengan lebih dari 280 pohon yang tumbuh—termasuk beberapa spesies langka seperti eboni, kecapi, dan menteng—menjadikannya ruang hijau yang tidak hanya estetis, tetapi juga ekologis.
Elemen perairan yang menjadi ciri khas Taman Langsat pun tetap dipertahankan. Zona selatan memiliki sungai kecil dan kolam teratai yang menghadirkan suasana lebih tenang dan reflektif. Sesekali, pengunjung dapat melihat kawanan bebek yang berkeliaran di sekitar area ini, menghadirkan sebuah detail sederhana yang memperkuat karakter taman sebagai ekosistem hidup, bukan sekadar ruang rekreasi.
Buka setiap hari selama 24 jam, taman ini menyambut siapa pun yang ingin berolahraga, menghabiskan waktu bersama orang terdekat, atau sekadar mencari jeda dari ritme kota. Di tengah dinamika metropolitan seperti Jakarta, kehadiran ruang hijau terbuka seperti Taman Bendera Pusaka bukan lagi sekadar pelengkap melainkan kebutuhan.—Rachman Karim
Salah satu produksi berskala besar yang paling ambisius di awal tahun. 30 Jan-15 Feb 2026