Platform Streaming Max Akan Rilis di Indonesia Akhir Tahun Ini
Nikmati beragam program menarik dari saluran-saluran milik Warner Bros. Discovery.
Foto utama: Alessandro Brasile/Diriyah Biennale Foundation
Di tengah transformasi Arab Saudi yang semakin terbuka terhadap dunia kreatif global, Diriyah Contemporary Art Biennale kembali hadir sebagai salah satu panggung seni paling bergengsi di kawasan ini. Memasuki edisi ketiganya, pameran seni ini digelar di distrik kreatif JAX, sebuah ruang industri yang direvitalisasi di Diriyah, tak jauh dari situs Warisan Dunia UNESCO At-Turaif. Hingga 2 Mei 2026, pengunjung diajak menyelami pengalaman seni kontemporer yang berdialog erat dengan lanskap sejarah yang berlapis.
Mengusung tema In Interludes and Transitions, biennale tahun ini mengajak audiens melihat perjalanan sebagai proses yang tidak pernah benar-benar selesai. Ia hadir dalam bentuk perpindahan, jeda, hingga transformasi yang menjadikannya sebuah medium refleksi yang terasa relevan di tengah dunia yang terus bergerak. Tema ini diterjemahkan ke dalam karya-karya yang tidak hanya untuk dilihat, tetapi juga untuk dirasakan secara emosional dan intuitif.

Ruang pamer dirancang oleh studio desain Formafantasma dengan pendekatan yang mengalir dan mengena. Lebih dari 65 seniman dari 37 negara berpartisipasi, menghadirkan lebih dari 25 karya baru dalam area seluas 12.900 meter persegi. Lorong-lorong melengkung, bidang ruang yang berubah, serta tata cahaya yang subtil menciptakan pengalaman berjalan yang nyaris sinematik, mengundang pengunjung untuk bergerak menyerap setiap lapisan narasi.

Salah satu sorotan tahun ini adalah eksplorasi musikalitas sebagai medium penyampai sejarah sosial, terutama dalam tradisi lisan dunia Arab. Hal ini diwujudkan melalui karya prosesi Folding the Tents (2026) oleh Mohammed Alhamdan, yang bergerak dari Wadi Hanifah menuju JAX sebelum berpuncak pada pertunjukan Miniawy Trio. Didukung oleh Lexus, karya ini merangkai dialog antara praktik kuno dan ekspresi kontemporer, memadukan ritme tradisional dengan lanskap budaya digital masa kini.“
Melalui In Interludes and Transitions, kami mengundang audiens untuk bergerak bersama biennale ini merasakan karya, gagasan, dan perspektif yang mencerminkan dunia yang terus berubah,” ujar Nora Razian dan Sabih Ahmed, Co-Artistic Directors Biennale 2026 seperti dikutip dari siaran pers yang diterima oleh TFL Paper.—Monika Febriana
Salah satu produksi berskala besar yang paling ambisius di awal tahun. 30 Jan-15 Feb 2026