Menghadirkan nuansa nostalgia dengan menu yang menggugah selera.

Foto dan teks oleh Rachman Karim.

Ada wajah baru di Simpang Empat Braga ketika saya mampir ke kawasan itu akhir tahun lalu. Di samping Wiki Koffie, sebuah bangunan yang lama terdiam akhirnya kembali bernapas. Saya masih ingat ruang ini pernah menjelma menjadi kafe bertema musik cadas pada pertengahan 2010-an, lalu perlahan menghilang dari radar. Kini ia bangkit dengan fasad Art Deco yang dipugar rapi dan papan nama minimalis bertuliskan Maison Wilhelmina.

Dibuka pada penghujung 2024, Maison Wilhelmina sejatinya adalah serviced apartment. Bangunannya merupakan penggabungan dua properti cagar budaya dari era 1970-an, diolah ulang tanpa menghapus memori lama. Di dalamnya ada empat unit apartemen, masing-masing berisi tiga kamar tidur, ruang keluarga, area makan, dan dapur lengkap. Pelengkapnya berupa sebuah kafe di lantai dasar dan bistro rooftop yang menghadap denyut Braga.

maison wilhelmina
Salah satu sudut di Press Mercantile Co., Maison Wilhelmina. Rachman Karim/TFL Paper.
maison wilhelmina
Beberapa sofa panjang turut mengisi ruangan. Rachman Karim/TFL Paper.

Saya datang bukan untuk menginap, melainkan menumpang bekerja selepas urusan di kawasan Sultan Agung. Kafe di lantai dasar bernama Press Mercantile Co., mengusung konsep yang mengingatkan pada toko buku lawas—jenis ruang yang dulu mewarnai koridor Braga sebelum pelan-pelan lenyap. Toko Buku Djawa, yang terakhir bertahan, pun kini telah beralih rupa menjadi kedai kopi.

Begitu melangkah masuk, suasananya terasa hangat dan bersahabat. Dinding putih gading berpadu tegel dekoratif bermotif kapsul, jendela besar membingkai lalu lintas Braga, sementara lantai parket herringbone memberi aksen elegan tanpa berlebihan. Langit-langit tinggi membuat ruang terasa lapang, tidak pengap seperti banyak kafe di bangunan tua. Saya memilih meja dekat jendela, posisi terbaik untuk mengamati pejalan kaki dan sesekali mendengar deru motor yang memantul di antara fasad kolonial.

maison wilhelmina
Tangga menuju perpustakaan kecil. Rachman Karim/TFL Paper.
maison wilhelmina
Ceruk memorabilia Harry Potter. Rachman Karim/TFL Paper.

Di mezanin terdapat sudut perpustakaan mungil, memanjang seperti koridor. Koleksinya tidak besar, tapi pilihannya menyenangkan: Wajah Bandung Tempo Doeloe karya Haryoto Kunto bersanding dengan Le Petit Prince. Sayang, beberapa buku ditempatkan terlalu tinggi sehingga sulit dijangkau. Di sudut lain, sebuah ceruk menyimpan memorabilia Harry Potter, lengkap dengan cermin di langit-langit yang jelas dirancang untuk ritual foto generasi media sosial.

Menu di Press Mercantile Co. cukup luas, merangkul Asia dan Barat tanpa terkesan memaksakan. Ada Salmon Steak, Ottoman Lamb Shank Stew, hingga Bebek Goreng Ubud. Mereka juga menyajikan menu sarapan, ide yang masuk akal untuk sebuah kafe di jantung kota lama. Saya memesan Chicken Karaage untuk teman menulis—renyah di luar, lembut di dalam, jenis kudapan yang sulit gagal.

Untuk minumannya, saya mencoba Einspanner Gula Aren, primadona kopi di sini. Pahit kopi, manis gula aren, dan krimer yang tebal berpadu rapi, mengingatkan pada ritual minum kopi sore yang tak perlu banyak teori. Pilihan kedua jatuh pada Goblet of Fire dari lini Fairy Tale Mocktails. Perpaduan jus kranberi, sitrus, dan whipped cream ini disarankan diseruput setengah-setengah. Rasanya unik, seperti versi ringan dari teh mus teapresso bintang Michelin di Taiwan yang pernah saya coba dulu.

maison wilhelmina
Chicken Karaage, Goblet of Fire, dan Einspanner Gula Aren. Rachman Karim/TFL Paper.
maison wilhelmina
Area terbuka di Mr. Moon & Mrs. Spoon. Rachman Karim/TFL Paper.

Menjelang senja, saya naik ke rooftop tempat Mr. Moon & Mrs. Spoon beroperasi. Bistro ini berporos pada kuliner Thailand—Tom Yum, Pandan Chicken, Omelette Seafood—ditemani koktail yang mengambil nama daerah di Negeri Gajah Putih. Dari area terbukanya, Simpang Empat Braga tampak seperti panggung kecil: lampu kendaraan, turis yang hilir-mudik, dan bangunan tua yang perlahan menguning diterpa matahari sore.

Maison Wilhelmina terasa lebih dari sekadar alamat baru. Ia seperti titik temu antara nostalgia dan ritme Bandung hari ini: tempat orang bisa bekerja, makan, memandangi kota, lalu pulang dengan cerita sederhana. Di Braga yang terus berubah, ruang semacam ini terasa perlu.

Jl. Lembong No. 1, Braga, Bandung; +62822-4048-8345; instagram.com/maison.wilhelmina; Buka Senin sampai Rabu, dari 07.00-23.00, dan Kamis sampai Minggu, dari 07.00-24.00Rachman Karim

Calendar of Events

Perahu Kertas Musikal

Salah satu produksi berskala besar yang paling ambisius di awal tahun. 30 Jan-15 Feb 2026

Now Playing Festival 2025

Now Playing Festival akan kembali mengguncang Kota Kembang. 30 Nov 2025

Espolòn Barrio Fiesta 2025 – Jakarta

Semangat Meksiko di tengah Ibu Kota. 7 Nov 2025

See More