Tentang inspirasi dan destinasi yang paling ingin dikunjungi seniman Indonesia-Australia ini.

Inspirasi tak selalu datang dari momen-momen agung. Bagi seniman berdarah campuran Indonesia-Australia, Ida Lawrence, momen sehari-hari dapat disulap menjadi kisah visual yang jenaka dan menarik. Berbasis di Berlin, Ida pernah menempuh studi di Sydney College of the Arts dan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Ia juga pernah menampilkan karya-karyanya di berbagai ekshibisi, termasuk Amid the Alien Corn di Berlin pada 2023. 

Menjelang penghujung 2025, Ida menggelar pameran solo yang bertajuk Hoarse Horse di Jakarta. Ekshibisi ini menampilkan karya-karya penuh warna yang merangkul dunia satwa. Karakter-karakter seperti anjing, rubah, dan burung jadi bintang utama dalam pameran. Tak hanya lukisan, Hoarse Horse juga menampilkan beberapa wahana interaktif, termasuk ayunan burung raksasa. Kami berbincang dengan Ida di galeri mengenai pamerannya dan perjalanannya sebagai seorang seniman. 

Boleh diceritakan bagaimana Anda menemukan minat dalam ranah seni?

Sejak kecil, saya selalu menggambar dan membuat beragam hal. Saya beruntung bisa berkembang dalam keluarga yang mendukung kegiatan tersebut karena, sayangnya, tidak semua orang mendapatkan dukungan dari keluarganya untuk menjadi seniman. Saya juga beruntung dapat mempelajari seni dan berkolaborasi dengan banyak orang, serta mendapatkan inspirasi dari karya-karya orang lain. Bisa dikatakan, momen itulah yang mendorong saya untuk terus menjalani kegiatan seni secara profesional. 

ida lawrence

Pameran tunggal Anda di ISA Art Gallery bertajuk Hoarse Horse, yang terdengar seperti sepasang homofon. Seperti apa proses kreatif di balik pagelaran ini? 

Jika diterjemahkan, Hoarse Horse berarti “kuda serat” dalam bahasa Indonesia, bukan? Sering kali, saya menggambarkan karya saya sebagai kisah bergambar atau penceritaan visual. Saya juga sangat tertarik dengan bahasa dan bunyi, dan bagaimana bahasa dibunyikan. Mungkin bisa dikatakan itulah alasan saya memilih judul tersebut. Dalam proses pembuatannya, saya membuat lukisan-lukisan yang saya memang ingin buat. Temanya terkesan acak. Hari ini, saya mungkin melukis seekor kuda, tetapi besok, saya melukis kisah dengan tema atau konsep yang berbeda jauh. Ketika saya melihat kembali, saya sadar ada banyak lukisan bertema hewan, dan saya pun sebelumnya belum pernah mengadakan pameran tentang hewan. Sepertinya ini jadi hal yang menarik. 

Namun, mengapa hewan?

Mengapa hewan? Saya tidak tahu mengapa saya tertarik dengan hewan, tetapi bisa saja ini merupakan bagian dari praktik seni. Saya hanya tahu bahwa saya ingin membuat pameran tentang hewan dan mengikuti insting tersebut. Sebagai contoh, saya punya lukisan A Terrible Beast. Dulu, ada seekor anjing yang selalu tampak ketakutan. Namun, menurut saya, anjing tersebut justru terlihat menarik untuk dilukis. Ada pula karya saya yang menampilkan kata-kata yang diulang [Superstition in the Pigeon]. Kata tersebut diambil dari sebuah artikel ilmiah, dan saya menyukainya dan ingin melukisnya. Merpati memang seekor hewan, tetapi sepertinya saya tertarik dengan kata “merpati” saja. Dalam sebuah karya lain, tidak ada hewan yang ditampilkan, tetapi mungkin sayalah yang menjadi hewan. 

Anda besar di Australia, dan sekarang tinggal di Berlin. Jika dilihat ke belakang, bagaimana tahun-tahun pertama Anda di Australia membantu membentuk cara pandang Anda terhadap dunia saat ini? 

Ah, mungkin bukan tentang tinggal di Australia, tetapi lebih tepatnya, pengalaman masa kecil. Ya, sejak kecil, saya sudah tertarik dengan pola. Sering kali, ada banyak pola dalam karya saya, seperti dalam pameran ini dan yang sebelumnya. Saat berusia 12 tahun, ada seorang sepupu yang menghadiahi saya kamera, dan ia sangat tertarik dengan pola. Bisa jadi momen tersebut akhirnya menginspirasi saya untuk melihat dunia lewat perspektifnya. Selain itu, di mana pun saya tinggal, saya selalu terinspirasi oleh teman-teman. Dengan mengenal mereka dan melihat cara kerja mereka, saya bisa mendapatkan inspirasi. 

ida lawrence

Berlin sudah lama dikenal sebagai magnet bagi para seniman yang ingin bebas dan bereksperimen. Hal apa dari Berlin yang membuat Anda ingin tinggal dan berkarya di sana?

Berlin sangat berbeda dari tempat-tempat yang pernah saya tinggali, seperti Indonesia dan Australia. Saya penasaran apa yang terjadi jika saya pindah ke sana dan berkarya di sana. Jadi, ya, karena rasa penasaran. Terlebih lagi, saya punya beberapa teman yang tinggal di Berlin dan sudah mengundang saya untuk datang. Saya rasa saya beruntung bisa pindah ke Berlin karena rasa penasaran dan akhirnya berkarya di sana. 

Anda banyak bepergian untuk bekerja atau berlibur. Namun, apakah Anda melihat perjalanan tersebut sebagai bagian dari praktek kreatif, alih-alih momen untuk beristirahat? 

Saat saya jauh dari rumah, otak saya mulai bekerja dengan cara yang berbeda. Rasanya, saya lebih terbuka pada berbagai hal saat berada di luar kota. Jadi, ya, sepertinya begitu. Otak saya tidak benar-benar beristirahat. Saya justru mengamati hal-hal yang mungkin bisa menjadi inspirasi untuk lukisan saya, atau sebaliknya. Pada akhirnya, untuk membuat karya, saya cukup menjalani hidup yang ada, mungkin di kota yang saya tinggali atau tempat lain yang saya kunjungi. Di kemudian hari, saya menyadari bahwa saya ingin melukis tentang sesuatu yang saya lihat.

Jadi, bisa dikatakan bahwa tempat-tempat yang Anda kunjungi memang memberikan inspirasi? 

Ya. Bisa dikatakan, saya sebetulnya sedang melakukan riset [saat berkunjung], tetapi saya tidak menyadarinya. Namun, pada akhirnya, fokusnya bukan pada satu tempat secara spesifik, tetapi hal-hal inspiratif yang saya lihat di jalanan. Atau mungkin, hal tersebut adalah obrolan saya dengan seseorang.

ida lawrence

Apakah ada destinasi yang sudah lama ingin disambangi, tetapi belum terwujud? 

Ya, saya ingin mengunjungi Mesir. Ada kelompok pekerja tekstil yang bekerja di sana, dan saya pernah melihat hasil sulaman dan karpet tenun mereka di sebuah museum di Jerman. Kreasi-kreasi mereka begitu indah, dan saya ingin menyambangi Mesir untuk mempelajari lebih lanjut tentang kerajinan tersebut. 

Terakhir, apa harapan Anda untuk tahun ini?

Saya tidak sabar ingin kembali ke studio dan bereksperimen dengan kisah dan teknik baru. Selama ini, saya ingin menggabungkan fotografi dan lukisan. Jadi, mungkin itu yang akan saya lakukan. Saya juga berharap bisa terus mengembangkan praktik penceritaan yang saya miliki saat ini. Mungkin yang dapat saya tanyakan kepada diri sendiri adalah bagaimana menghidupkan kisah-kisah tersebut lewat lukisan atau pameran, dan bagaimana saya bisa bersenang-senang sambil melakukannya.

Calendar of Events

Perahu Kertas Musikal

Salah satu produksi berskala besar yang paling ambisius di awal tahun. 30 Jan-15 Feb 2026

Now Playing Festival 2025

Now Playing Festival akan kembali mengguncang Kota Kembang. 30 Nov 2025

Espolòn Barrio Fiesta 2025 – Jakarta

Semangat Meksiko di tengah Ibu Kota. 7 Nov 2025

See More