Madam Hoek jadi hidup baru bagi si Toko Biru.

Teks dan foto oleh Rachman Karim.

Saya tak ingat kapan terakhir kali benar-benar menyusuri Jalan Kelenteng di Bandung dengan niat menjelajah, bukan sekadar lewat. Rupanya, dalam satu dekade terakhir, kawasan ini ikut berbenah. Lampion-lampion tradisional bergelantungan rapi, lampu jalan bergaya antik menyala temaram, seolah menegaskan kembali perannya sebagai jantung pecinan kota. Jalan Kelenteng hari ini terasa lebih terawat, lebih percaya diri dengan identitasnya.

Siang itu, saya masuk dari paifang yang menghadap ke Jalan Jenderal Sudirman. Langkah saya melambat, mengikuti ritme kawasan. Di kiri-kanan, jejak arsitektur kolonial Belanda dan Peranakan masih bertahan, meski sebagian mulai terdesak bangunan modern. Aroma hio yang herbal dan powdery dari Vihara Satya Budhi bercampur dengan bau ayam goreng dari warung tenda di depannya—sebuah komposisi aroma yang, entah bagaimana, terasa sangat Bandung.

Di persimpangan Jalan Kelenteng dan Jalan Saritem, pandangan saya tertambat pada sebuah bangunan kolonial di sudut jalan. Kusen pintu dan jendelanya dicat corak biru yang lembut, kontras dengan dinding putih bersih. Di samping pintu, terpasang papan nama sederhana: Madam Hoek. Rasa lapar dan rasa ingin tahu pun bertemu di titik yang sama.

madam hoek
Fasad Madam Hoek, dengan kusen berwarna birunya. Rachman Karim/TFL Paper.

Jejak Biru

Dibuka pada akhir 2024, Madam Hoek tergolong pemain baru di lanskap kuliner Jalan Kelenteng. Kafe ini menempati bangunan cagar budaya yang dulu dikenal sebagai Toko Biru—sebuah toko kelontong yang, dalam ingatan saya, juga menyediakan jasa fotokopi. Nama lamanya terasa abadi lewat kusen-kusen biru muda yang masih dipertahankan hingga hari ini.

Transformasi bangunan ini dilakukan dengan penuh respek. Tritisan di kedua sisi fasad diperbaiki dan kembali berfungsi sebagai pelindung pejalan kaki. Tak ada perubahan besar pada tampilan luar, hanya kesan yang lebih segar dan terawat—seolah bangunan ini hanya berganti peran, bukan kehilangan jiwanya.

madam hoek
Area makan utama di lantai dasar. Rachman Karim/TFL Paper.
madam hoek
Taman kecil dengan pohon dwarf umbrella. Rachman Karim/TFL Paper.

Begitu melangkah masuk, atmosfer nostalgik langsung menyergap. Interiornya meramu langgam Eropa dengan artefak tempo dulu: televisi antik, mesin tik, telepon putar, hingga potret-potret hitam putih yang menghiasi dinding. Warna biru muda menjadi benang merah visual—muncul pada tegel antik bermotif geometri, konter kasir, radio tua, hingga piano elektrik yang menjadi aksen tak terduga.

Di bagian belakang, sebuah taman kecil dengan meja beton mengelilingi pohon-pohon dwarf umbrella menawarkan ruang bernapas. Tangga di sudut taman mengarah ke area merokok dan ruang makan tambahan di lantai dua. Di sini, suasana terasa lebih intim: sofa panjang ala bistro, dinding bata ekspos, dan pencahayaan hangat yang cocok untuk pertemuan keluarga atau kongko santai bersama sahabat.

Warisan Indo

Menu Madam Hoek berakar kuat pada tradisi bersantap Indo dan Peranakan—jenis masakan yang akrab, tapi jarang dipresentasikan dengan pendekatan seperti ini. Untuk kudapan, ada poffertjes, bitterballen, dan roti panggang yang pas menjadi teman kopi. Sementara menu utama menghadirkan menu favorit masyarakat, seperti nasi goreng, ramesan, dan nasi soto.

madam hoek
Nasi Goreng Ayam Kecombrang. Rachman Karim/TFL Paper.
madam hoek
Bir Pletok. Rachman Karim/TFL Paper.

Untuk makan siang, saya memilih Nasi Goreng Ayam Kecombrang dan segelas Bir Pletok dingin. Nasi gorengnya tampil lembut dan harum, dengan aroma wangi kecombrang yang tidak mendominasi. Ayam gorengnya renyah di luar, empuk dan berempah di dalam. Sambal matah menjadi aksen pedas segar yang menghidupkan keseluruhan rasa. Bir Pletok-nya memang sedikit manis untuk selera saya, tapi rempahnya ringan dan menyegarkan.

Pada malam-malam tertentu, Madam Hoek berubah menjadi ruang dengar. Musisi-musisi jaz lokal naik panggung, membawakan nomor-nomor klasik yang mengalun pelan, menemani percakapan dan piring-piring yang perlahan kosong. Di momen seperti ini, Madam Hoek terasa lebih dari sekadar kafe—ia menjadi titik temu: antara sejarah dan hari ini, antara rasa dan bunyi, antara Jalan Kelenteng yang lama dan yang sedang tumbuh kembali.Rachman Karim

Calendar of Events

Perahu Kertas Musikal

Salah satu produksi berskala besar yang paling ambisius di awal tahun. 30 Jan-15 Feb 2026

Now Playing Festival 2025

Now Playing Festival akan kembali mengguncang Kota Kembang. 30 Nov 2025

Espolòn Barrio Fiesta 2025 – Jakarta

Semangat Meksiko di tengah Ibu Kota. 7 Nov 2025

See More