5 Destinasi Liburan Favorit Alexa Key dan Chelsea Shania
Kakak-beradik di balik restoran KYRO ini jatuh hati pada desa-desa cantik Eropa hingga kota kosmopolitan yang penuh inspirasi.
Foto dan teks oleh Rachman Karim
Awal 2000-an menjadi periode penting dalam sejarah fesyen Indonesia. Di tengah dominasi ritel besar seperti SOGO, Metro, Matahari, dan Ramayana, muncul gelombang tandingan berupa merek-merek fesyen independen lokal. Saat lokapasar daring belum menjadi bagian dari keseharian, kanal distribusi utama mereka adalah distribution outlet, atau yang kemudian populer dengan sebutan distro. Dalam satu ruang, beberapa merek lokal berbagi rak dan identitas, sebelum akhirnya berkembang menjadi butik eksklusif dengan karakter yang lebih tegas.
Bandung menjadi episentrum dari pergerakan ini. Selain dikenal lewat factory outlet, kota ini dipenuhi butik-butik independen yang tumbuh seiring kultur anak muda. Jakarta kemudian menyusul, dengan kawasan Jalan Tebet Utara Dalam hingga Jalan Tebet Raya menjelma sebagai titik temu fesyen indie ibu kota.

Selepas 2010, lanskap berubah. Media sosial, tiket pesawat murah, dan masuknya fesyen cepat global menggeser kebiasaan berbelanja. Internet menawarkan kemudahan, sementara bepergian ke Singapura, Kuala Lumpur, atau Bangkok terasa semakin terjangkau. Perlahan, pamor toko fisik distro pun meredup, terdesak oleh algoritma dan etalase digital.
Saya tumbuh bersama gelombang distro tersebut. Besar di Bandung, ada satu ritual yang selalu saya tunggu, terutama setiap Lebaran. Setelah menerima tunjangan hari raya, saya dan Reza, sahabat saya, menyusuri kawasan yang membentang dari Jalan Trunojoyo hingga Jalan Sultan Agung. Tujuannya sederhana dan nyaris sakral: belanja baju distro.

Bertahun-tahun berlalu tanpa kunjungan. Hingga libur Natal kemarin, saya memutuskan kembali. Dimulai dari Jalan Sultan Agung, saya menapak ulang jejak fesyen independen Bandung, sebuah lanskap yang pernah mengukuhkan kota ini sebagai kiblat mode Jawa Barat.
Kultur Distro
Dalam sebuah obrolan santai, sepupu saya Fahmi, yang sempat berkecimpung di dunia fesyen indie, mengingatkan bahwa kultur distro telah mengakar sejak akhir 1990-an. “Awal 2000-an, banyak merek lokal melejit setelah berkolaborasi dengan band,” ujarnya. Musik menjadi katalis, membentuk apa yang kemudian dikenal sebagai kultur distro.


Secara harfiah, distro adalah distribution outlet, tempat beredarnya produk-produk indie dan suvenir musik. Namun maknanya bergeser. Ia menjadi identitas ritel, bahkan gaya hidup. Beberapa kawasan menjadi simpulnya, dari sekitar Alun-Alun Bandung hingga apa yang dikenal sebagai segitiga emas Sultan Agung–Trunojoyo–Bahureksa.
Akhir 2000-an hingga awal 2010-an menandai puncak kejayaan fesyen indie Bandung. Menurut Fahmi, peran komunitas sangat krusial. Merek-merek berkelindan dengan penggemar pop punk, skateboarder, hingga anak motor, menciptakan ekosistem yang hidup. Namun kemudian, online shopping, penetrasi merek global, dan pandemi 2020 menguji ketahanan model ini. “Brand tetap butuh toko fisik,” kata Fahmi. “Tapi lokapasar daring juga jadi penyelamat.”
Dari Pop Punk hingga Cyberpunk
Meski diterpa perubahan, distro Bandung tak sepenuhnya hilang. Beberapa pemain lama masih bertahan. SCH, yang berdiri sejak 1997, tetap relevan dengan tipografi ikonisnya. Toko utamanya di Jalan Sultan Agung bahkan menjelma sebagai pernyataan arsitektur, dengan fasad dan interior berbasis kontainer.
Berjalan lebih jauh, memori remaja kembali hadir. Evil Army dengan estetika gelap beraroma musik cadas. Bloods yang menerjemahkan kultur musik ke bahasa visual. Screamous dan Cosmic tampil lebih pop dan berwarna. Di sisi lain, generasi baru muncul membawa bahasa berbeda. Kremlin menawarkan estetika techwear dan cyberpunk, sementara Pot Meets Pop memodernisasi workwear denim. Nama-nama seperti Sixpax, House of Smith, dan Russ & Co. turut memperkaya lanskap.


Di Jalan Trunojoyo, narasi berlanjut. Phillip Works berdiri di persimpangan Trunojoyo–Bahureksa, merayakan kultur motor, lengkap dengan Royal Enfield antik di ruang depannya. Screamous dan Cosmic membuka cabang kedua, sementara UNKL347 berevolusi menjadi 347 Homebreaks, ruang hibrida tempat fesyen, musik, dan kuliner saling bersilangan.
Selipan Kuliner
Kultur distro juga melahirkan denyut kuliner. Di seberang butik, kios-kios camilan hidup berdampingan, dari soto sulung hingga pisang keju. Sinar Gakong, yang berbagi ruang dengan Pot Meets Pop, menyajikan hidangan khas Hong Kong. Di sepanjang Jalan Sultan Agung dan Trunojoyo destinasi kuliner tumbuh. Sultan Agung Resto hadir dengan menu Nusantara dan Belanda, sementara MASA, Gijon Steakhouse, dan CUPS melengkapi pilihan. Sari Sari menjadi penutup manis, menghadirkan nostalgia jajanan pasar.
Lebih dari sekadar terapi ritel, napak tilas ke surga distro Bandung ini adalah perjalanan personal. Ia membangkitkan memori masa remaja, sekaligus membuktikan bahwa fesyen indie Bandung terus berevolusi. Bertahan, beradaptasi, dan menemukan relevansinya di tengah arus fesyen cepat dan perubahan zaman.—Rachman Karim
Salah satu produksi berskala besar yang paling ambisius di awal tahun. 30 Jan-15 Feb 2026